Archive for March 27, 2009

DIKLATPIM IV yang melelahkan

Mulai akhir bulan Maret lalu saya diberi kesempatan untuk mengikuti Diklat Kepemimpinan Tingkat IV di Pusdiklat Pegawai Magelang. Pemanggilannya sangat mendadak. Jum’at siang diberitahu dan hari Seninnya sudah harus masuk Diklat. Akhirnya selama setengah hari itu saya kalang kabut mempersiapkan apa-apa yang harus dibawa baik urusan administrasi maupun urusan perlengkapan. Ditambah lagi, akhir maret adalah hari yang sibuk terkait penerimaan SPT.
Setelah mampir di rumah Pekalongan, akhirnya hari minggu pagi saya berangkat ke Magelang. Saya berangkat pagi-pagi karena saya belum tahu kota Magelang. Minggu sore akhirnya sampai juga di pusdiklat pegawai Magelang. Hari itu lumayan juga bisa istirahat sambil membayangkan besok paginya.
Nah, mulai senin tersebut ternyata kegiatan diklat tersebut benar-benar menyita waktu. Mulai dari outbond di Kopeng, tugas baca, kertas kerja kelompok dan kertas kerja perorangan. Hari sabtu harus masuk, sementara malam hari disibukkan dengan pengerjaan tugas-tugas dan kegiatan di kelas. Hari ini alhamdulillah, tugas perorangan sudah selesai. Tinggal observasi lapangan minggu depan dan ujian minggu berikutnya.
Sebenarnya banyak pengalaman, pengetahuan dan hikmah berharga yang saya dapat dari diklat ini. Mungkin di waktu senggang nanti pengalaman tersebut akan saya tuangkan diblog ini.

Advertisements

March 27, 2009 at 5:26 am Leave a comment

DIKLATPIM IV MAGELANG ANGKATAN 106

Akhirnya selesai juga diklat kepemimpinan tingkat IV yang kuikuti selama enam minggu ini. Ada perasaan berat juga meninggalkan diklatpim yang diadakan di kota Magelang ini. Ya, walaupun cukup melelahkan mengikuti diklatpim ini namun diklat ini telah memberikan warna baru dalam hidupku. Banyak hal yang kupelajari dari diklat ini. Banyak hikmah yang saya dapat selama mengikuti diklat yang dulu bernama Adum ini.
Ketika hari Jum’at tanggal 28 Maret 2008 mendadak saya mendapatkan telpon dari bagian kepegawaian Kantor Pusat bahwa saya harus mengikuti diklat pada hari Seninnya tanggal 31 Maret 2008, perasaan saya agak bingung dan cemas. Diklat macam apa ini. Apa yang yang akan dialami nanti selama diklat. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul di benak sambil mempersiapkan kelengkapan-kelengkapan yang harus di bawa. Keberadaan saya di Jakarta yang tinggal di kamar kost serta rumah yang di Pekalongan membuat saya harus mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Sebagian kelengkapan harus saya bawa dari Jakarta, sebagaian lagi harus diambil di Pekalongan.
Kerugian pertama yang harus saya dapatkan akibat diklat ini adalah berkurangnya waktu dengan keluarga. Hari minggu pagi tanggal 30 Maret 2008 saya harus berangkat ke Magelang. Padahal biasanya saya kembali pada minggu sore ba’da maghrib. Ketika mendapatkan jadwal diklatpun saya harus mengernyitkan dahi karena hari Sabtu yang biasanya libur ternyata masuk. Jadi, waktu akhir pekan bersama keluargapun harus dikurangi. Bahkan ketika sibuk mengerjakan tugas, sayapun harus tinggal di Magelang.
Tiga hari pertama diklat diisi dengan kegiatan outbound yang berlokasi di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di daerah Kopeng Salatiga. Kegiatan outbound ini diisi dengan berbagai permainan. Dengan berbagai permainan tersebut akhirnya kami, peserta Diklatpim IV dari berbagai pelosok Nusantara ini, saling mengenal. Kegiatan masak memasakpun menjadi ajang untuk saling mengenal ini. Kami yang tadinya pesimis bisa memasak, karena semua bapak-bapak, ternyata bisa memasak berbagai macam makanan. Di kelompok saya untungnya ada seorang yang ternyata berbakat mengolah bahan makanan menjadi masakan yang lumayan enak. Kami yang tidak terbiasa masakpun bisa percaya diri dalam urusan masak memasak walau kelihatan gamang untuk sekedar membuat telor ceplok.
Dari kegiatan ngobrol di tengah malam Kopeng yan dingin, akhirnya kami tahu asal muasal semua peserta diklat ini. Dilihat dari instansinya, peserta diklat berasal dari hampir semua unit di lingkungan Departemen Keuangan. Ada yang dari Direktorat Jenderal Pajak, seperti saya, ada yang berasal dari Direktorat Jenderal Anggaran, Direktorat Jenderal Perbendaharaan, BAPEPAM-LK, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan dan peserta yang paling banyak berasal dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Dilihat dari asal daerah, pesertanyapun sangat beragam. Ada yang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, bahkan ada yang dari Papua. Ada yang berasal dari kota besar, ada juga yang dari kota kecil yang mungkin tak ada di peta. Paling barat diwakili oleh Lhoksumawe dan Banda Aceh. Paling timur diwakili oleh Nabire dan Timika. Ada juga yang berasal dari daerah yang baru saya kenal yaitu Sintete, Watampone dan Bajoe. Rata-rata mereka adalah pejabat eselon IV di daerah-daerah tersebut.
Dari mereka saya bisa mendapat cerita tentang pengalaman-pengalaman kerja yang unik, terutama di daerah pelosok. Rata-rata mereka tinggal sendiri sementara keluarga mereka ada didaerah lain, terutama di Jawa. Ada temen dari daerah Sijunjung Sumatera Barat yang bingung menghabiskan waktu akhir pekan jauh dari keluarga. Ada cerita tentang bagaimana kualitas SDM di daerah-daerah pelosok yang memprihatinkan. Salah satu temen di Nabire malah kebingungan dengan minimnya anak buah di mana dia sebagai Kepala Kantor hanya ditemani oleh dua orang tenaga pelaksana. Soal pekerjaan, sayapun mendapat pencerahan tentang pekerjaan temen-temen diklat ini. Ternyata memang luas bidang pekerjaan Departemen Keuangan ini. Saya jadi faham tugas-tugas teman-teman di Bea Cukai, KPPN, BAPEPAM, Anggaran dan DJKN. Sayapun memahami bahwa semua pekerjaan mereka sangat penting. Tugas DJP untuk mengumpulkan uang pajak hanyalah sebagian tugas Departemen Keuangan.
Sepulang dari outbound, kami langsung menghadapi kegiatan-kegiatan pembelajaran di kelas. Kegiatan kami dimulai pada Pukul 05.15 pagi berupa senam pagi atau jalan sehat. Kegiatan selesai biasanya pukul 16.15 sore. Kadang-kadang malam hari juga ada kegiatan belajar di kelas. Dosen, atau Fasilitator berasal baik dari lingkungan internal Pusdiklat Pegawai maupun dari eksternal seperti dari Pusdiklat Depdagri, UGM dan UNY Jogjakarta. Kalau dipilih fasilitator favorit mungkin jatuhnya kepada Bu Lena dari UGM. Di samping gaya membawakan materi yang menarik dan tidak membosankan, penampilan ibu ini pun terbilang menarik di usianya yang setengah abad. Materi yang dibawakannya adalah Kecerdasan Emosional. Kalau dari lingkungan internal, fasilitator yang bagus menurut saya adalah Bu Tiwi dan Pak Casuri. Bahasa mereka jelas dan fokus kepada materi. Pembawaannyapun cukup santun dan menghormati peserta.
Kegiatan pembelajaran yang cukup menyita waktu adalah pengerjaan tugas-tugas. Ada tugas baca, kertas kerja kelompok (KKK), kertas kerja perorangan (KKP) dan kertas kerja observasi lapangan (KKOL). Untuk mengerkakan ini bisanya kami biasa mengerjakannya sampai larut malam terutama jika besoknya harus diseminarkan. Khusus KKOL, kami mengerjakannya setelah melakukan observasi lapangan di Pelindo III Cabang Tanjung Emas Semarang. Dengan mengerjakan tugas kelompok secara bersama-sama ini kami jadi tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing anggota kelompok. Kamipun bisa menilai siapa dari anggota kelompok yang mempunyai kontribusi besar terhadap kelompok. Nah, ketika polling dilakukan, akan terlihat 10 besar orang-orang terbaik menurut pilihan peserta.
Setelah semua tugas-tugas itu berlalu, kami langsung dihadapkan pada ujian. Ada dua jenis ujian yaitu ujian internal di mana soalnya berasal dari Pusdiklat Pegawai Magelang ini dan soal dari Lembaga Administrasi Negara (LAN). Soal internal terdiri dari dua jenis yaitu soal pilihan berganda dengan alokasi waktu satu jam dan soal kasus dengan alokasi waktu tiga jam. Soal LAN pada hari berikutnya terdiri dari soal essay berdurasi tiga jam dan soal kasus yang berdurasi tiga jam. Persiapan untuk ujian ini sangat minim mengingat modul yang bertumpuk sementara persiapannya hanya setengah hari dan tidak ada hari tenang. Jadi, belajarnyapun hanya sekilas saja. Apalagi bagi saya yang tidak bisa sistem kebut semalam, praktis persiapan ujiannya hanya sebentar saja. Sekitar jam 9 atau jam 10 malam biasanya saya sudah ngantuk. Kalau sudah ngantuk begini, ya saya harus tidur walaupun banyak buku belum dibaca.
Setelah ujian selesai, kami juga harus merevisi tugas-tugas dan harus dikumpulkan semua sehari sebelum acara penutupan. Namun di sela-sela acara revisi tugas-tugas ini, sebagian dari kami sempat melakukan acara arung jeram di Kali Elo Magelang. Dengan iuran sebesar Rp115.000,- kami bisa berarung jeram ria selama kurang lebih dua jam melampiaskan penat selama sebulan lebih. Bapak-bapak yang berusia mulai 20 an sampai 50 an ini bisa berteriak-teriak dan bermain air di Kali Elo ini. Persis seperti anak-anak kampung yang bermain di pinggir Kali Elo. Bedanya anak-anak itu bermain gratis, kami, bapak-bapak ini, bermain dengan membayar. He..he..he..
Acara penutupan dilakukan pada hari Sabtu tanggal 10 Mei 2008. Acara ini didahului dengan kegiatan evaluasi atas penyelenggaraan diklat ini. Fihak penyelenggara yang diwakili oleh Pak Alwan dan Bu Febta meminta kami untuk memberi kritik dan masukan-masukan untuk perbaikan penyelenggaraan diklat berikutnya. Temen-temen peserta diklat menyoroti banyak hal. Ada yang mengeluh soal makanan, kamar, dan air. Ada juga yang mengeluhkan banyaknya virus di lab komputer. Peserta lain mengeluhkan tidak adanya hari tenang untuk belajar dan ada juga yang mempertanyakan kenapa setiap keluar asrama diharuskan menggunakan kartu ijin keluar. Namun bagi saya, secara keseluruhan penyelenggaran diklat ini sangat profesional. Tak ada kesan menghambur-hamburkan anggaran. Acara pembukaan dan penutupanpun betul-betul sederhana jauh dari kesan seremonial yang mubazir. Praktek gratifikasi kepada penyelenggarapun diharamkan apalagi sampai jual beli nilai. Penyelenggara sudah mewanti-wanti ini di acara pembukaan. Praktek plagiatisme pun sangat dilarang. Dan ini menjadi hal yang ditekankan untuk mengerjakan tugas-tugas.
Akhirnya acara penutupan pun tiba pada sekitar pukul 9 pagi. Acara penutupan dibuka dengan sambutan dari bapak Alwan selaku penyelenggara yang dilanjutkan sambutan dari Pak Eduard Ehmon selaku ketua kelas kami. Kemudian acara dilanjutkan dengan pembacaan executive summary oleh salah satu peserta diklat yaitu Bapak Johny Manthong. Nah, acara yang paling lama adalah sambutan dari Bapak Tony sebagai Kepala Pusdiklat Pegawai Departemen Keuangan. Beliau juga sekaligus mengumumkan bahwa kami semua lulus serta membacakan sepuluh orang yang menduduki rangking teratas dalam perolehan nilai. Kejutan terjadi di sini. Saya ternyata menduduki rangking enam. Padahal saya merasa biasa-biasa saja. Mengerjakan tugas hanya sekedar memenuhi saja. Keaktifan di kelas juga biasa saja. Mengajukan pertanyaan seperlunya saja. Persiapan ujianpun hanya sekedarnya saja tidak memaksakan diri untuk belajar sampai larut malam. Rangkaian acara ditutup dengan pembacaan do’a oleh Bapak Zainal dari Banda Aceh.dan pemberian ucapan selamat oleh penyelenggara dan Bapak Tony kepada kami. Saat itu waktu menunjukkan sekitar Pukul 10.15 pagi.
Selepas acara penutupan, masing-masing kami berkonsentrasi untuk pulang ke daerah masing-masing. Saat itu kami tidak sempat saling bercerita dan berbagi pengalaman lagi. Yang ada dalam benakkmai hanya keluarga yang sudah menunggu di rumah setelah ditingkalkan selama berminggu-minggu. Sayapun meninggalkan Pusdiklat Magelang sekitar pukul setengah dua belas siang.
Selamat tinggal Pusdiklat Pegawai. Selamat tinggal Magelang. Selamat tinggal Diklatpim IV angkatan 106. Kebersamaan kita memang berakhir tapi persaudaraan kita tiada berakhir.

March 27, 2009 at 5:20 am Leave a comment

Seputar Perjalanan Diklatpim

Ada apa dengan peserta DIKLATPIM?

Ternyata dibalik pintu gerbang DIKLATPIM Sawangan – Bogor, tersimpan segudang cerita lain yang menarik dan unik! Kehidupan dibalik asrama, memang sering kali mampu hadirkan sisi lain kehidupan manusia yang terkadang di luar nalar kita. Masih ingat cerita seputar Kampus APDN!? Mereka juga sama seperti kita menyandang status sebagai PNS.
_____________________________________________
Sekembalinya dari Diklatpim, banyak temanku yang tampak penasaran, dan berkeinginan untuk mengetahui banyak hal seputar diklatpim di Sawangan – Bogor, baik persyaratan sebagai peserta, prosedur keberangkatan, maupun pengalaman selama hampir tiga bulan tinggal di sana.
Keingin tahuan mereka bisa dimaklumi, mengingat status mereka yang juga sama2 PNS, namun belum berkesempatan melaksanakan kewajiban sebagai peserta Diklatpim. Tapi ada satu pertanyaan dari seorang temanku yang tampak ngotot, dan pertanyaannya itu sungguh telah mampu membangunkan memoriku untuk kembali mengingat serta mau bercerita seputar pengalamanku selama tinggal di sana.
Walau terasa agak basi untuk diceritakan tapi gak ada salahnya khan!? Toh masih banyak teman2 kita yang belum berangkat ke sana. Lagian tuh, kayanya gak ada yang jamin kalo pengalamanku ini tidak akan berguna dan dapat menambah wawasan teman2 kita calon peserta Diklatpim berikutnya.
Baiklah, asal mula pertanyaan temanku itu sepertinya timbul dari rasa penasarannya, setelah mendengar banyaknya kabar bau yang di bawa tahi burung yang kebetulan jatuh di telinganya. Kabar adanya cinlok, perselingkuhan, ML, Hantu gentanyangan, hingga bubarnya rumah tangga peserta sekembalinya dari sana! Kabar2 bau tersebut rupanya mampu menenggelamkan kabar seputar capeknya perjuangan daku untuk menjadi yang terbaik di sana!
Untuk itu kisahku di bawah ini barangkali bisa menambah wawasan teman2 PNS yang belum dapat panggilan, dan jika kelak mendapat panggilan-Nya, (mati kalee!) di harapkan mereka tidak akan begitu shock karena telah sedikit mengenal sikon di sana dari ceritaku ini. Selebihnya mereka dapat menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, baik kesiapan materi, fisik, dan mental. Oh yak, mengenai apa pertanyaan temanku itu, telah kujadikan judul tulisanku di atas! Baiklah aku mulai saja ceritanya yaaa…!? Iya!
DIKLATPIM di Sawangan – Bogor, dari apa yang saya baca “dimaksudkan sebagai salah satu upaya institusi untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, kepemimpinan, dan sikap aparaturnya agar dapat melaksanakan tugas jabatan struktural Eselon IV maupun Eselon III secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)”. Lainnya, “menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa”. Harapan yang tinggi dari institusi sekembalinya mereka dari kawah candradimuka yaitu, “mereka diharapkan sudah memiliki kompetensi yang sesuai dengan persyaratan Jabatan Struktural Eselon yang diikutinya disertai sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman dan pemberdayaan masyarakat, menciptakan kesamaan visi dan pola pikir dalam melaksanakan tugas institusi demi terwujudnya tatakelola yang baik”.
Institusi gue sendiri, kalo saya tidak salah, yak betul! Setiap tahunnya senantiasa mengirimkan pegawainya ke Sawangan – Bogor untuk mengikuti Diklatpim tersebut. Sedangkan latar belakang penyelenggaraan Diklatpim diknas umumnya yaitu “UU Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian, PP Nomor 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan PNS, Keputusan kepala LAN Nomor 193/XIII/10/6/2001 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Diklat Jabatan PNS dan Keputusan Kepala LAN Nomor 541/XIII/10/6/2001 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan”.
PIM tersebut juga konon katanya, “mempunyai nilai dan arti yang strategis bagi upaya penyiapan tenaga – tenaga potensial calon pemimpin yang mempunyai sikap mental yang baik sekaligus kemampuan dibidang oprasional dan teknis administrasi, selain mengadung nilai investasi jangka panjang yang nantinya akan meningkatkan produktifitas kerja sehingga tercipta PNS yang professional sesuai dengan kompetensi jabatan yang dipersyaratkan”. Amien! Kita do’ain aja yaa…
Tapi itu lain cerita, yang jelas kalo boleh saya tebak!? Temen2 sendiri umumnya mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi untuk ke Sawangan – Bogor karena UU dan PP itu tadi! “Maksud lo!? Hanya untuk memenuhi persyaratan formal saja!”.
Auk ach gelap! Emang gue pikirin!? Yang mau gue ceritain disini bukanlah hal2 yang bersifat formil, tapi cerita tentang sisi lain atau sisi kelam kehidupan peserta Diklatpim di Sawangan – Bogor! Kehidupan dibalik camp atau asrama dalam waktu yang relatif cukup lama, memang seringkali mampu hadirkan cerita lain yang terkadang di luar nalar kita. Masih ingat cerita kelam di balik kehidupan Kampus APDN!? Mereka juga sama seperti kita menyandang status sebagai PNS. Bedanya peserta Diklatpim umumnya udah pada merit dengan usia yang gak lagi muda.
Membandingkan camp DIKLATPIM di Sawangan – Bogor dengan Camp APDN di Jatinangor – Sumedang memang gak fair, namun mengingat peserta diklatpim di Sawangan sudah pada punyak komit terhadap pasangan idupnya masing2, dan sudah mampu berpikir dewasa, pan sudah tua-an! Jadi merupakan suatu yang baru dan suprise buat gue, kala tau di balik gerbang asmara … eh salah! Asrama Diklatpim Sawangan – Bogor ada juga tersimpan cerita yang tidak kalah menarik!!!
Tuch die coi yang pengen gue ceritain di sini…!!! Jadi ikutin terus ye kisahnye mumpung ni hari gue lagi inget dan sok pintar! Soalnya sape tau besok – besok gue lupe dan bodoh lagi, seperti kemaren dan kemarennye lagi!

March 27, 2009 at 5:17 am Leave a comment


March 2009
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031